Monday, September 25, 2006

Polisi Belum Peroleh Gambaran Rangkaian Bom Kuningan

Rabu, 03 November 2004







Jakarta, Kompas - Hingga menjelang bulan ketiga sejak peledakan bom di depan Kedubes Australia, 9 September lalu, polisi belum memperoleh gambaran mengenai rangkaian elektronik dari bom yang digunakan dalam teror itu. Dengan demikian, pertanyaan soal apakah rangkaian pada bom di Kedubes Australia itu sama dengan rangkaian bom Bali dan bom Hotel JW Marriott, belum terpecahkan.

Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI (Polri) Komisaris Jenderal Suyitno Landung menyatakan, belum ditemukannya rangkaian itu karena polisi belum menemukan barang bukti signifikan yang tertinggal di tempat kejadian perkara. "Di bom Marriott, pelaku menggunakan casing dari filing cabinet, kemudian di kanan-kirinya dilingkari drum-drum atau jeriken yang isinya bahan bakar sehingga pada waktu meledak, menimbulkan bola-bola api. Nah, ini kita tidak temukan dalam penyelidikan bom Kedubes Australia. Apakah filing cabinet itu digambarkan bertumpuk sekaligus meledak? Rangkaian itu belum dapat digambarkan secara jelas karena kita belum menemukan," jelas Suyitno lagi.

Ia menambahkan, sebenarnya penemuan itu sangat penting bagi polisi. Pasalnya, fakta itu akan dapat menuntun polisi untuk mengetahui, apakah bom Kedubes Australia merupakan tipologi kelompok pelaku untuk memperbaiki daya sebaran atau daya ledak. Atau, dengan kata lain, mereka makin pintar dalam meninggalkan jejak.

Seorang kriminolog, Erlangga Masdiana, mengatakan, lokasi bom meledak di depan Kedubes Australia merupakan ruang terbuka dan tidak steril untuk membangun konstruksi ulang ledakan. "Rangkaian bom sangat penting diketahui sebagai salah satu bukti penyidikan jika kemudian pelakunya tertangkap. Kalau rangkaian itu tidak terungkap, seandainya pelakunya tertangkap dan disidangkan, bisa-bisa pelaku itu bebas karena tidak terbukti," kata Erlangga.

Menurut Erlangga, upaya penangkapan pelaku teror bom juga belum optimal dilakukan polisi yang menguasai wilayah teritorial sampai di tingkat kecamatan. Hal ini disebabkan konsentrasi polisi di setiap teritorial kecamatan masih pada kejahatan konvensional. (ADP/NAW)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home