Friday, October 06, 2006

FENOMENA AYAM KAMPUS

1.1 Latar Belakang
Melalui praktik pelacuran seks dengan segala perniknya telah lama diperlakukan sebagai komoditas yang terbukti sangat laku dipasaran.Pelacuran itu sendiri konon merupakan “Profesi”paling tua sepanjang sejarah kehidupan manusia.Disetiap zaman selalu ada upaya untuk menghambat dan memelihara keberadaannnya.Motivasi orang untuk menceburkan diri dalam bisnis inipun cukup beragam,bukan hanya factor keterdesakan ekonomi,tetapi juga karena factor keterjebakan pada arus “Trend” perilaku seksual yang “Just for having fun”.
Jika dulu kita kerap menjumpai kasus “Pernikahan Dini” karena ada perjodohan,maka kini kita hidup dalam suatu lingkungan modern yang menerima budaya seks bebas(aktifitas seks diluar bingkai pernikahan yang sah).Sepertinya saat ini kita sudah tidak terkejut lagi mendengar berita kasus-kasus hamil diluar nikah,kumpul kebo,aborsi dan sebagainya dimedia cetak maupun televisi. Padahal lima atau sepuluh tahun yang lalu masalah-masalah itu masih ditabukan dan dianggap cukup memalukan.Jika dulu orang dewasa malu mengakui hamil diluar nikah,kini kita hamper setiap hari dicekoki pelbagai media massa baik cetak maupun elektronik dengan berita hamil dari hasil perselingkuhan,kumpul kebo,atau aktifitas penyimpangan seks lainnya(gay,lesbihan,dan sejenisnya).Kesemuanya itu secara tidak sengaja atau tersamar merupakan kampanye untuk gerakan “Free Sex”.
Tindakan menutup lokalisasi praktik pelacuran atau menertibkan malah menyebabkan tersebarnya wanita-wanita tunasusila dalam menjajakan diri. Merebaknya fenomena”Ayam Kampus” bisa disebut sebagai salah satu bukti yang mengindikasikan telah tersebarnya pelacuran hingga kelingkungan intelektual yang selama ini kita banggakan sebagai garda depan kehormatan bangsa.Sebelumnya saya akan menjelaskan definisi tentang “Ayam Kampus” itu sendiri:




Ayam
Pemakaian istilah “Ayam” lebih ditekankan karena sifat ayam itu sendiri, khususnya dalam masalah seks. Bisa kita lihat bahwa jika “Ayam” mau kawin, dia tidak peduli dengan siapa dia berhubungan asal puas dan hasratnya bisa tersalurkan, maka permasalahannya selesai tanpa memikirkan resiko dan dampaknya.

Kampus
Kampus adalah tempat untuk melakukan suatu kegiatan perkuliahan yang sedang diselenggarakan, yang didalam tersebut terdapat dosen, mahasiswa, tata usaha dan para karyawan lainnya. Untuk pembahasan penelitian saya kali ini lebih menitik beratkan ke mahasiswinya (peserta didik).
Jadi “Ayam Kampus”adalah pelaku “Free Seks” dimana mereka masih terdaftar sebagai mahasiswi pada sebuah lembaga pendidikan universitas baik diploma ataupun sarjana. Sedangkan untuk konsumennya sendiri berasal dari luar lingkungan lembaga pendidikan universitas tersebut, seperti om-om yang berduit atau eksekutif muda.
Dengan merebaknya “Ayam Kampus” disejumlah perburuan tinggi, maka dapat menimbulkan keresahan masyarakat akan kwalitas daripada perguruan tinggi tersebut, karena tanpa disadari bahwa telah terjadi praktik prostitusi disebuah universitas yang notabene adalah tempat proses belajar mengajar para mahasiswa dengan dosen untuk mendapatkan kemampuan intelektual yang tinggi dan bermoral baik
Hal inilah yang tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Merebaknya Ayam Kampus”, karena fenomena tersebut banyak sekali kajian-kajian yang dapat kita analisa secara konseptual, seperti kenapa mereka sampai terjun menjadi “Ayam Kampus”, bagaimana model Ayam Kampus jika beroperasi dll. Maka disini saya akan mengulas kehidupan ayam kampus.

1.2 Rumusan Masalah
Menjadi ayam kampus telah menyimpan banyak sekali resiko yang kadang tidak disadari oleh pelakunya, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya (kampus).


Adapun rumusan masalah yang ditimlbulkan dengan adanya ayam kampus adalah sebagai berikut:
Bagaimana cara untuk mengatasi agar penyebaran ayam kampus tidak merebak ke berbagai lembaga perguruan tinggi?
Apa upaya-upaya untuk meminimalisir kaum wanita agar tidak terkena kanker leher rahim?
Bagaimana cara mengatasi agar tingkat aborsi tidak meningkat?
Demikian rumusan masalah yang akan ditimbulkan dengan maraknya penyebaran ayam kampus.

1.3 Kegunaan Secara Teoritis dan Praktis
Masalah kemerosatan moral sekarang ini telah terjdi di negara Indonesia. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menunjukkan krisis moral, hal ini kita dapat lihat di media cetak atau elektronik, seperti pemerkosaan ayah terhadap anak kandungnya sendiri, adanya praktik-praktik prostitusi di berbagi daerah dan sebagainya.
Kemerosotan moral bukan saja terjadi pada masyarakat biasa, tetapi sekarang ini juga melanda dikalangan mahasiswa yang notabene calon intelektual bangsa. Ini terbukti munculnya praktik prostitusi disejumlah perguruan tinggi,yang kita kenal dengan “Ayam Kampus”. Ayam Kampus sendiri merupakan julukan bagi si pekerja seks yang masih duduk dibangku kuliah.
Fenomena Ayam Kampus pada saat ini menjadi hal yang hangat dibicarakan ditengah masyarakat. Karena mahasiswa sebagai simbul intelektual yang selayaknya menjadi panutan dalam masyarakat. Memprihatinkan memang bila praktek perilaku menyimpang tersebut dilakukan disebuah lembaga pendidikan tinggi yang terhormat.
Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan kajian untuk dianalisa mengenai merebaknya fenomena “Ayam Kampus” disejumlah perguruan tinggi diantaranya adalah:




Faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswi menjadi “Ayam Kampus” antara lain :
Faktor Ekonomi
Sebagai seorang mahasiswi, mereka pastilah memerlukan biaya yang tidak sedikit, tidak hanya biaya kuliah saja tetapi juga untuk menunjang penampilan mereka sendiri sehari-hari. Bagi mahasiswi sekarang penampilan adalah sesuatu yang mutlak meskipun tidak semaunya seperti itu. Tapi paling tidak dengan penampilan akan menunjang pergaulan mereka. Proses praktik “Ayam Kampus” itu sendiri kadang memang dikaitkan dengan proses akademika yang mahal. Padahal jika kita tinjau para orang tua yang menyekolahkan anaknya diperguruan tinggi pastilah sudah memiliki perhitungan yang ekstra matang tentang masalah financial tersebut. Dan untuk tuntutan mode kemungkinan lepas dari perhitungan ekonomi orang tua mereka yang satu-satunya penyandang dana utama dalam proses pembiayaan akademik yang dijalani si anak.Misal saja budget orang tua hanya untuk dana kuliah dan sewa kost, sementara untuk beli baju, ke salon dan kosmetik ataupun kencan lepas dari kalkulasi orang tua mereka.Oleh sebab itu mereka mencari tambahanuang dengan cara yang menurut mereka lebih cepat menghasilkan uang dengan jumlah yang lumayan pula tanpa bersusah payah yaitu dengan menjadi pekerja seks atau biasa disebut sebagai “Ayam Kampus”.

Faktor Pelarian / Kepuasan
Dalam paradigma masyarakat modern seperti sekarang ini, cinta sudah tidak dibutuhkan lagi untuk melakukan seks bebas. Hubungan intim dengan lawan jenis dapat didasari oleh perasaan yang kecewa karena dikhianati oleh kekasihnya. Atau aktifitas ini hanya untuk “ having fun” ( kesenangan sesaat ). Pada kasus seperti inilah biasanya mereka berpikir menjadi “Ayam Kampus” dapat memuaskan hasratnya. Dan bagi pribadi yang datang dari keluarga menengah keatas, materi atau uang bukanlah persoalan,tetapi kepuasanlah yang mereka cari. Kebutuhan manusia yang tidak pernah terpuaskan itulah yang mendorong mereka untuk mencari kepuasan tersendiri yaitu dengan jalan melacurka harga diri dan masa depannya.
Faktor Kurangnya Perhatian / Kontrol Orang tua
Untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta banyak mahasiswa yang harus tinggal dirumah kost. Maka mereka mau tidak mau harus beradaptasi ditempat tinggal yang baru, seperti tinggal dilingkungan baru, teman baru dan situasi yang sama sekali berbeda dari daerah asalnya. Dan secara otomatis mereka jauh dari orang tua, hal inilah yang nantinya menjadi pemicu karena dilingkungan yang baru ini biasanya mereka bebas melakukan apa saja tanpa ada pengawasan dan control dari orang tua mereka. Mereka bebas berpikir, bebas berbuat dan bertindak,bebas bergaul dengan siapa saja. Dari sinilah faktor untuk menjadi “Ayam Kampus” sangat berpengaruh, karena mereka menganggap jauh dari orang tua maka bebas untuk melakukan segala hal, yang kemudian secara tidak sadar langsung mereka akan mencari perhatian diluar yaitu dengan om-om berduit yang bisa memberikan perhatian sekaligus memberikan apa saja yang mereka inginkan.

Model Operasi “Ayam Kampus”
Model operasi “Ayam Kampus”dalam melakukan praktiknya hampir sama dengan PSK (Pekerja Seks Komersial) ataupun waria, tapi bedanya para “Ayam Kampus” tidak mangkal dijalan-jalan yang menurut PSK daerah yang strategis. Dalam beroperasi “Ayam Kampus” sangat rapi demi menjaga nama baik identitasnya dan dalam menjamu konsumennya mereka sangat profesional. Mereka melakukan itu semua diluar jam-jam kuliah dan dilakukan secara tersamar dilingkungan kampusnya. Biasanya mereka sangat ketat dan berhati-hati dalam menentukan konsumen, karena mereka juga menjaga identitasnya kecuali identitasnya sebagai mahasiswinya yang sengaja dibiarkan untuk sekedar mendongkrak “harga jual” mereka dimata konsumennya.
Ada beberapa model operasi yang biasanya digunakan “Ayam Kampus” dalam mendapatkan konsumen antara lain:
Jalan Sendiri ( individual )
Model ini dijalankan sendiri tanpa broker atau germo yang membawa mereka ke konsumen. Biasanya Ayam Kampus dengan model ini dapat dijumpai diklub-klub malam, diskotik dan sejenisnya. Mereka sangat selektif dalam memilih pasangan kencannya, karena mereka tidak ingin sembarang orang, dan biasanya mereka lebih memilih eksekutif muda yang keren dan tajir. Proses awalnya pun persis seperti orang berkenalan biasa, kemudian mereka lanjutkan diluar seperti cek in di hotel atau tempat yang membuat mereka happy. Tapi sebelum mereka berkencan, mereka melakukan transaksi dan apabila sudah disepakati barulah mereka pergi. Hanya saja setelah itu tidak dilanjutkan dengan komitmen apapun “just for having fun”.
Menggunakan Penghubung
Jam praktik mereka biasanya selepas kuliah. Penampilanya lazim dan biasa, tidak mencolok dan norak seperti PSK kebanyakan, mereka dandan persis seperti mahasiswi lainnya. Mungkin lebih modis dalam berpakaian dan selalu mengikuti tren. Sedangkan penghubungnya biasanya para sopir taksi atau salon “plus-plus”, dimana mereka tersebut bisa menghubungkan antara jasa “Ayam Kampus” dan konsumennya. Para penghubung pun biasanya sangat hati-hati dalam memilih pelanggan, karena mereka sudah memiliki komitmen dengan si pekerja seks (ayam kampus).
Dengan Broker / Germo
Untuk kelompok ini agak mudah diakses. Dan sangat mungkin, kelompok ini sudah menduplikasikan diri kedalam kelompok pelacuran, tapi bedanya ini khusus bagi mahasiswi yang terjun kedunia prostitusi. Mereka tinggal berkumpul dan sangat tersembunyi, ada yang tinggal menetap dan ada juga yang tinggal pada saat jam-jam boking saja. Pembayaran setelah mereka melakukan kencan dengan system prabayar. Si pemboking biasanya terlebih dahulu dating ke broker / germo atau bisa disebut dengan “mami”, kemudian mereka melakukan transaksi tawar menawar, dan setelah terjadi kesepakatan barulah si pemboking diantar ke sebuah hotel terdekat untuk menemui “Ayam Kampus” tersebut.



1.4 Kerangka Teoritis
Teori Komunikasi Keluarga
Merebaknya “Ayam Kampus” disejumlah perguruan tinggi merupakan munculnya penyimpangan perilaku seks yang terjadi dikalangan mahasiswa, hal ini menunjukkan bahwa adanya kebebasan mahasiswa dalam pergaulan dan kurangnya kontrol dari orang tua. Sehingga memungkinkan terjerumus dan menjerumuskan diri pada perilaku seks bebas menjadi lebih besar. Dalam hal ini komunikasi keluarga sangat dibutuhkan untuk meminimaliskan terjadinya salah pergaulan dikalangan mahasiswa. Dengan adanya komunikasi keluarga maka diharapkan para orang tua dapat menjalin hubungan yang baik dengan putra-putrinya dan dapat mengontrol perilaku putra-putri mereka agar tidak terjerumus kedalam lembah nista. Teori Komunikasi keluarga memang sangat tepat digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini, karena sebagian besar mahasiswa yang terjerumus menjadi “Ayam Kampus” ini kurang mendapatkan kasih saying dan kurangnya komunikasi dengan keluarganya termasuk orang tua mereka sendiri.

1.5 . Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif maksudnya adalah memaparkan, menggambarkan peristiwa yang terjadi sesuai dengan fenomena yang sebenarnya. Penelitian saya kali ini berdasarkan pengamatan atau observasi dan wawancara secara langsung dengan si pelaku seks atau si “Ayam Kampus” itu sendiri. Sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participan Observation.Yaitu peneliti melakukan observasi dengan cara melibatkan diri atau menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

1.5.1 Tahap Penelitian
Untuk tahap penelitian saya tentang “Ayam Kampus”ini adalah :
Penelitian saya mengenai “Ayam Kampus” ini merupakan penelitian disejumlah perguruan tinggi diantaranya Universitas Gunadarma dan Universitas Indonesia, sedangkan untuk waktunya saya lakukan pada malam hari,sebab pada saat itulah mereka mulai beroperasi.
Jenis penelitiannya sendiri berdasarkan pengamatan secara langsung dilapangan, dimana “Ayam Kampus” tersebut telah menjalankan profesinya sebagai pekerja seks.
1.5.2 Teknik Penelitian
a. Observasi
Suatu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian guna memperoleh data seakurat mungkin, maka peneliti menggunakan observasi partisipasi aktif. Disini saya selaku peneliti secara langsung mengamati si “Ayam Kampus” yang sedang mengadakan aktivitas sebagai pekerja seks.
b. Interview
Adalah cara yang berdasarkan laporan verbal dimana terdapat hubungan langsung antara peneliti dengan obyek yang diteliti. Atas dasar pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa interview merupakan cara poengumpulan data dengan tanya jawab secara langsung.
1.6 Sistematika Penulisan
Penyajian penelitian ini menguraikan beberapa hal pokok mengenai latar belakang, rumusan masalah, kegunaan secara teoritis dan praktis, kerangka teori, metode penelitian, dan kini sistematika penulisan.
Hasil penelitian disajikan dalam beberapa bagian, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan satu dengan lainnya.












DAFTAR PUSTAKA


Hadi, Sutrisno, 1989, Metodologi Research : ANDI OFFSET, Yogyakarta.
Mulyana, Deddy, 2002, Metode Penelitian Kualitatif : Remaja Rosdakarya, Bandung.
Moleong, J Lexy, 2002, Metode Penelitian Kualitatif : PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Sumanto, 1995, Metodologi Penelitian Sosial : ANDI OFFSET, Yogyakarta.